Sabtu, 20 Oktober 2012

Inilah Kampungku



                                                        kampungku yang tercinta ku
Demi apa aku harus kembali ke Oakbisik Sedang di kampungku ini aku tak kekurangan apa-apa. Hidup sederhana cukuplah bagiku. Tak punya apa-apa tapi banyak cinta.. *meminjam lirik lagunya Slank. Cinta dari orang tua dan saudara-saudara. Juga cinta dari alamnya yang indah, yang dengan murah hati memanjakan mata setiap penikmatnya. Tak seorangpun yang sanggup menolak pesona sawah yang membentang luas menghijau dengan semburat warna kuning, yang terhampar luas di kaki gunung yang menjulang. Bagaikan lukisan alam, dan Allah-lah sang Maha esa



pemandangan gunung wenebim yang indah sekali


Tak seorangpun yang tak berdecak kagum melihat matahari terbit yang menyembul dari balik gunung yamarili, dan matahari tenggelam di samping gunung wenebim. Semua itu bisa dinikmati di satu tempat, yaitu di kampungku, di oakbisik
                                                     ujung lapangan terbang oakbisik
                    penyerahan uang PNPM Mandiri, sekaligus arahan dari KM provinsi papua

Letaknya yang di kelilingi banyak gunung, membuat Oakbisik memiliki hawa yang sejuk. Walau kadang membuat menggigil, terutama di saat pagi dan malam hari. Tapi hawa sejuk dan dingin ini diimbangi dengan kehangatan penduduknya yang ramah. Sungguh sebuah tempat yang menentramkan. Membuat hati dan langkah ini enggan beranjak.
Namun dengan hati galau aku harus meninggalkan Oakbisik. Demi menyelesaikan banyak urusan akibat keputusanku di masa lalu. Dan demi masa depan agar kelak aku bisa kembali ke oakbisik.
                                Km provinsi dengan penambing kabupaten yakukimo. distrik kwikma.

kampungku kerinduanku.. Nama kampung yg terletak di Daerah Tambunan ia itu Kampung Oakbisik, nama kampung di panggil Oak  nama lapter walma yg sejuk dan bersih, kampung ini terletak di hujung dari tiga kampung yang berkaitan dengan Oakbisik  itu Cinta yg tak terlupa.


                             perumahan sosial desa husmon kampung oakbisik

atu ksetelah hati sering disakiti Lantas hati pergi menjauh ingin lupakan kenangan yg menyakitkan gurau senda lalu melambai pergi setelah hati mula terubat engkau datang dengan kekesalan hati yg sering disakit sudah lama berjauh hati tak ingin disakiti lantaran kisah lampau..

usahalah menyapa ku lagiandai sekadar untuk meghilangkan sepi di hatikata kata yg engkau utarakan hanya menguris semula luka di hati yg kian sembuh..
sesungguhnya rindu dan kekesalan sering menyapa kadang  terasa bodoh masi sudih memaafkan walaupun perkara menyakitkan sering berulang hati ini tk mungkin akan kembali lagi..itu la janji di hati tapi perasaan ini sering terluk kerna tk dpt mengikuti janji hati..
hati sakit kerna tetap merinduimu..

Keluargaku di Gereja tercinta (peniel oakbisik)

Aku ingin membagikan kisah para sudara sudara tiriku di gereja ,ada banyak ,aneh aneh ,unik unik ,namun juga sangat sangat menyenangkan .

Vassula, Aku telah hadir dalam Gereja-Ku. Aku berjalan di depan Salib- Ku. Beberapa detik lamanya Aku berhenti di hadapanmu
Putri-Ku, selama sekian tahun itu Aku menanti supaya engkau hadir dalam Gereja-Ku yang tercinta
Tuhan dan Juru Selamat. Engkau memang mencari aku dan menemukan aku serta mengantar aku kepada diri-Mu dan kepada Gereja-Mu. Sekian tahun telah berlalu …. Engkau menunggu aku sekian tahun!!
Aku berdiri di depan Salib-Ku dan setiap orang yang datang menyembah Aku, Kubalas dengan berkat.
Salib Suci telah ditempatkan di tengah-tengah Gereja itu sehingga setiap orang datang secara bergilir untuk menciumnya.
  1. Cukup aneh. Selama berlangsungnya Perarakan Salib, kami seharusnya minggir untuk memberi tempat kepada imam yang memikul Salib Suci (yang panjangnya sekitar dua meter) dan kepada para misdinar yang mengikutinya dengan memegang lilin besar. Karena remang, imam tidak melihat arah perjalannya sehingga datang berhadapan dengan aku. Sambil menyadarinya, ia berdiri beberapa detik di depanku dan berusaha mencari jalannya. Sepupuku yang bersama dengan aku, langsung melihat kejadian itu. Hatiku memacu, ketika aku menghadapi Salib besar itu dan aku tidak dapat mundur lagi, sebab di belakangku terdiri banyak orang dengan lilin bernyala. Aku tidak dapat bergerak lagi!





Akan Kubimbing engkau, hai kecil. Mari, bawalah Salib-Ku dan ikutilah Aku. Ingatlah, Aku akan membantu engkau. Engkau akan menjadi murid-Ku. Aku akan membantu engkau untuk menyatakan diri-Ku. Aku adalah Yang Kudus.
Aku adalah Yang Kudus, maka jadilah Suci, hiduplah Suci. Aku akan menopang engkau.
Vassula, maukah engkau berkarya bagi-Ku?

Aku mengasih engkau. Panggilah Aku, kapan saja engkau menghendakinya.
(Aku telah setuju, tanpa menyadari apa arti ‘berkarya bagi Allah’. Tetapi karena aku mengasihi Allah, aku ingin menyenangkan Dia. Aku tidak pernah menyadari ketidakmampuanku!)
Dengarkanlah Aku. Dengarkanlah jeritan-jeritan-Ku, dengarkanlah jeritan-jeritan-Ku. Dapatkah engkau melihat Salib-Ku? Akulah Yesus yang memberi penglihatan ini kepadamu. Aku memanggil. Aku menderita, sebab Aku menghargai kalian, para kekasih-Ku, dan Aku melihat kalian tercerai-berai dan tidak menyadari bahaya yang dipasang roh jahat terhadap kalian. Hati-Ku terkoyak ketika Aku melihat, betapa jauhnya kalian dari Aku!